in sourcing

Saat ini banyak perusahaan yang mengadakan sistem informasi dengan cara melakukan pengembangan sendiri atau yang dikenal dengan istilah in-sourcing. In-sourcing adalah suatu model pengembangan dan dukungan sistem teknologi informasi yang dilakukan oleh para pekerja di suatu area fungsional dalam organisasi (misalnya Akunting, Keuangan, dan Produksi) dengan sedikit bantuan dari pihak spesialis sistem informasi atau tanpa sama sekali. Model ini dikenal juga dengan istilah end-user computing atau end-user
development. Pengembangan ini dilakukan oleh para spesialis sistem informasi yang berada dalam departemen EDP (Electronic Data Processing), IT (Information Technology), atau IS (Information System). Pengembangan sistem umumnya dilakukan dengan menggunakan SDLC (Systems Development Life Cycle) atau daur hidup pengembangan sistem. Dengan menggunakan SDLC ini, organisasi akan mengikuti 6 langkah penting, yang mencakup berbagai tahapan berikut :
Kelebihan :
a. Sistem dapat dipilih menyesuaian dengan kebutuhan organisasi
b. Cocok diintegrasikan dengan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada
c. Proses pengembangan sistem dapat dikelola dan dimodifikasi serta dikontrol keamanan akses (security acces)
d. Pemakai (user) mengendalikan pembuatan sistem
e. Mudah meng-upgrade tambahan aplikasi yang dikehendaki
f. Umumnya sistem merupakan perangkat lunak yang berkualitas tinggi karena sudah dilakukan uji-coba sebelum diserahkan, sehingga kemungkinan terkena bug sangat kecil.
g. Dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif (competitif advantage)
h. Dokumentasi lebih lengkap
Kelemahan :
a. Mengembangkan sistem baru memerlukan waktu relatif yang lama karena dimulai merancang dari awal.
b. Kesulitan dalam menyatakan kebutuhan perusahaan pengembangan memahami mereka dan seringkali hal ini membuat para pengembang merasa putus asa.
c. Ketersediaan SDM yang ahli dalam bidang TI dan SI sangat terbatas
d. Memmerlukan pelatihan bagi operator dan programer
e. Sistem tidak selalu memenuhi dengan standar jaminan mutu
f. Ada kemungkinan paket tidak mendukung fungsi-fungsi yang spesifik dalam perusahaan
g. Evaluasi paket sistem menyita waktu dan banyak biaya

Konsep outsourcing

Teknologi informasi (TI) sistem diharapkan untuk memenuhi standar tinggi operasi dan integritas pengolahan, sementara korban bulat-jam ketersediaan, keamanan, dan kinerja yang baik.Dalam lingkungan saat ini, organisasi
harus menghadapi perubahan yang cepat dan teratur dalam TI, tuntutan kinerja ekonomi-mail, dan tekanan untuk memberikan fungsionalitas TI yang kompetitif. Untuk memenuhi tantangan ini, organisasi semakin mempertimbangkan kegiatan outsourcing sistem informasi mereka sebagai pilihan yang menarik. Bahkan, banyak organisasi telah menggunakan outsourcing dalam
satu bentuk atau lain.
Pemakaian Paket Perangkat Lunak Kadangkala karena waktu yang sangat pendek terhadap tenggat waktu yang ditentukan oleh manajemen, bagian sistem informasi tidak mampu mengembangkan sendiri aplikasi yang diperlukan perusahaan. Sebagai gantinya, dilakukan pembelian paket perangkat lunak, yaitu perangkat lunak yang dibuat oleh suatu vendor yang ditujukan untuk menangani masalah tertentu. Dengan menggunakan perangkat lunak seperti ini, para spesialis sistem informasi tidak perlu membuat program dan tentu saja hal ini akan menyingkat waktu tersedianya sistem informasi yang dikehendaki. Pada prakteknya, sebuah paket perangkat lunak seringkali belum sesuai dengan semua kebutuhan perusahaan. Namun adakalanya kemampuan yang ditawarkan sebuah paket perangkat lunak jauh melebihi dari kebutuhan. Oleh karena itu diperlukan pula tindakan untuk mengidentifikasi pengembangan antara kemampuan yang ditawarkan paket perangkat lunak dengan kebutuhan
perusahaan. Satu hal lagi yang juga perlu diketahui, umumnya paket perangkat lunak dijual
dalam bentuk modul-modul secara terpisah; misalnya berupa modul Account Payable, Accounts Receivable, Payroll, dan General Ledger. Pada keadaan seperti ini, tentu saja modul-modul yang sekiranya belum diperlukan bisa tidak dibeli.

Gambar 1 memperlihatkan penyelesaian setelah pengidentifikasian perbedaan kemampuan paket perangkat lunak dan kebutuhan  perusahaan. Dalam hal in ada tiga alternatif yang bisa dilakukan setelah ditemukannya perbedaan-perbedaan.

  1. Memodifikasi paket perangkat lunak hingga sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya vendor dapat dilibatkan dalam melaksanakan aktivitas ini.
  2. Mengubah prosedur dalam perusahaan agar sesuai dengan prosedur yang ditetapkan pada paket perangkat lunak.
  3. Menggunakan paket perangkat lunak tersebut tanpa melakukan perubahan apapun yang berarti bahwa ada kemungkinan kebutuhan perusahaan yang tak terpenuhi oleh paket tersebut.

Secara umum outsourcing diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyedia jasa, dimana badan penyedia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta kriteria yang telah disepakati. Menurut UU Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, outsourcing diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan
penyediaan jasa tenaga kerja. Dalam pengertian yang luas, outsourcing diartikan sebagai penyerahan atau pengontrakan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dimana ada beberapa tipe yang dapat dikenali.

  1. in-sourcing
  2. co-sourcing
  3. out-sourcing